Kitab Adab

1. Larangan memakai nama julukan Abul Qasim selain Rasulullah dan menerangkan nama-nama yang dianjurkan

         Hadis riwayat Anas bin Malik , ia berkata:
Seseorang menyapa temannya di Baqi: Hai Abul Qasim! Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berpaling kepada si penyapa. Orang itu segera berkata: Ya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, aku tidak bermaksud memanggilmu. Yang kupanggil adalah si Fulan. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kalian boleh memberi nama dengan namaku, tapi jangan memberikan julukan dengan julukanku. (Shahih Muslim No.3974)

         Hadis riwayat Jabir bin Abdullah , ia berkata:
Seseorang di antara kami mempunyai anak. Ia menamainya dengan nama Muhammad. Orang-orang berkata kepadanya: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Orang itu berangkat membawa anaknya yang ia gendong di atas punggungnya untuk menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Setelah sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. ia berkata: Ya Rasulullah! Anakku ini lahir lalu aku memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadaku: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kalian boleh memberikan nama dengan namaku, tetapi jangan memberi julukan dengan julukanku. Karena, akulah Qasim, aku membagi di antara kalian. (Shahih Muslim No.3976)

         Hadis riwayat Abu Hurairah , ia berkata:
Abul Qasim, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Berikanlah nama dengan namaku, tetapi jangan memberikan julukan dengan julukanku. (Shahih Muslim No.3981)

2. Sunah merubah nama buruk menjadi nama yang baik, mengubah nama Barrah menjadi Zainab, Juwairiyah dan sebagainya

         Hadis riwayat Abu Hurairah , ia berkata:
Semula nama Zainab adalah Barrah. Orang mengatakan, ia membersihkan dirinya. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memberinya nama Zainab. (Shahih Muslim No.3990)

3. Haram hukumnya menamakan dengan Malikul Amlak dan Malikul Muluk (Raja Diraja)

         Hadis riwayat Abu Hurairah :
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Nama yang paling jelek di sisi Allah adalah seorang yang bernama Malikul Muluk. Ibnu Abu Syaibah menambahkan dalam riwayatnya: Tidak ada malik (raja) kecuali Allah Taala.. (Shahih Muslim No.3993)

4. Sunah mentahnik (mengolesi mulut dengan makanan manis) anak yang baru lahir dan membawanya kepada orang yang saleh agar mentahniknya, boleh memberi nama pada hari kelahirannya, sunah memberi nama dengan Abdullah, Ibrahim dan nama-nama para nabi yang lain

         Hadis riwayat Abu Musa , ia berkata:
Anakku lahir, lalu aku membawanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya (mengolesi mulutnya) dengan kurma. (Shahih Muslim No.3997)

         Hadis riwayat Aisyah , ia berkata:
Asma binti Abu Bakar keluar pada waktu hijrah saat ia sedang mengandung Abdullah bin Zubair. Ketika sampai di Quba, ia melahirkan Abdullah di Quba. Setelah melahirkan, ia keluar menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. agar beliau mentahnik si bayi. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengambil si bayi darinya dan beliau meletakkannya di pangkuan beliau. Kemudian beliau meminta kurma. Aisyah berkata: Kami harus mencari sebentar sebelum mendapatkannya. Beliau mengunyah kurma itu lalu memberikannya ke mulut bayi sehingga yang pertama-tama masuk ke perutnya adalah kunyahan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Selanjutnya Asma berkata: Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengusap bayi, mendoakan dan memberinya nama Abdullah. Tatkala anak itu berumur tujuh atau delapan tahun, ia datang untuk berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ayahnya, Zubair yang memerintahkan demikian. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tersenyum saat melihat anak itu menghadap beliau. Kemudian ia membaiat beliau. (Shahih Muslim No.3998)

         Hadis riwayat Aisyah bahwa:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dibawakan seorang bayi lalu beliau memberkatinya dan mentahniknya. (Shahih Muslim No.4000)

         Hadis riwayat Sahal bin Saad , ia berkata:
Al-Mundzir bin Abu Usaid, ketika baru dilahirkan, dibawa menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Beliau meletakkan di pangkuannya sedangkan Abu Usaid duduk. Lalu perhatian Nabi Shallallahu alaihi wassalam. tercurah pada sesuatu di depan beliau. Maka Abu Usaid menyuruh seseorang mengangkat anaknya dari atas paha Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan memindahkannya. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tersadar, beliau bertanya: Mana anak itu? Abu Usaid menjawab: Kami memindahkannya, ya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bertanya: Siapa namanya? Abu Usaid menjawab: Fulan, ya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tidak, tetapi namanya adalah Mundzir. Jadi, pada hari itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memberinya nama Mundzir. (Shahih Muslim No.4002)

5. Boleh seseorang memanggil anak orang lain dengan ya bunayya (wahai anakku), dan disunatan hal itu untuk berkasih-sayang

         Hadis riwayat Mughirah bin Syu`bah , ia berkata:
Tak seorang pun bertanya tentang Dajjal kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. lebih banyak dari pertanyaanku kepada beliau dalam persoalan itu. Maka beliau bersabda: Wahai anakku! Apa yang membuatmu berpayah-payah memikirkannya? Sesungguhnya ia (Dajjal) tidak bakal membahayakanmu. Aku (Mughirah) berkata: Orang-orang beranggapan, bahwa ia akan memiliki sungai-sungai air dan gunung-gunung roti. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Yang lebih dari itu, sangat mudah bagi Allah. (Shahih Muslim No.4005)

6. Meminta izin

         Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri , ia berkata:
Aku sedang duduk dalam majlis orang-orang Ansar di Madinah lalu tiba-tiba Abu Musa datang dengan ketakutan. Kami bertanya: Kenapa engkau? Ia menjawab: Umar menyuruhku untuk datang kepadanya. Aku pun datang. Di depan pintunya, aku mengucap salam tiga kali tetapi tidak ada jawaban, maka aku kembali. Tetapi, ketika bertemu lagi, ia bertanya: Apa yang menghalangimu datang kepadaku? Aku menjawab: Aku telah datang kepadamu. Aku mengucap salam tiga kali di depan pintumu. Setelah tidak ada jawaban, aku kembali. Sebab, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. telah bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian minta izin tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban, maka hendaklah ia kembali. (Shahih Muslim No.4006)

         Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari bahwa:
Ketika Abu Musa datang kepada Umar bin Khathab, ia mengucap: Assalamu`alaikum, ini Abdullah bin Qais, tetapi tidak ada jawaban, maka sekali lagi ia mengucap: Assalamu`alaikum, ini Abu Musa. Assalamu`alaikum ini Al-Asy`ari. Ketika ia berbalik hendak pulang, Umar muncul dan berkata: Kembali! Kembalilah kemari! Setelah Abu Musa datang, Umar bertanya: Hai Abu Musa ! Mengapa engkau cepat-cepat hendak pulang? Kami sedang melakukan suatu pekerjaan. Abu Musa berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Minta izin itu tiga kali. Jika engkau mendapat izin, maka engkau boleh masuk tetapi kalau tidak, maka pulanglah. (Shahih Muslim No.4010)

7. Makruh menjawab dengan kata aku bagi orang yang minta izin ketika ditanya siapa ini?

         Hadis riwayat Jabir bin Abdullah , ia berkata:
Aku datang mengunjungi Nabi Shallallahu alaihi wassalam. lalu menyapa kemudian Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bertanya: Siapa ini? Aku menjawab: Aku. Nabi Shallallahu alaihi wassalam. lalu keluar seraya berucap: Aku, aku. (Shahih Muslim No.4011)

8. Haram memandang ke dalam rumah orang lain

         Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi :
Bahwa seorang lelaki mengintip pada lubang pintu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membawa sisir yang beliau gunakan untuk menggaruk kepala. Pada waktu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. melihat orang itu, beliau bersabda: Seandainya aku tahu engkau memandangku tentu aku tusukkan sisir ini ke matamu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. juga bersabda: Sesungguhnya disyariatkan minta izin itu (memasuki rumah) hanyalah untuk menghindari penglihatan. (Shahih Muslim No.4013)

         Hadis riwayat Anas bin Malik :
Bahwa seseorang melongok dari salah satu bilik Nabi Shallallahu alaihi wassalam. kemudian Nabi Shallallahu alaihi wassalam. beranjak menghampirinya dengan membawa anak panah bermata lebar. Aku seakan-akan melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengintai hendak menikamnya. (Shahih Muslim No.4015)

         Hadis riwayat Abu Hurairah :
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Barang siapa melongok ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka mereka boleh mencungkil matanya. (Shahih Muslim No.4016)
------------------------------------------------------------------------------------------------
Kitab Ucapan Salam

1. Pengendara sepatutnya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan kelompok yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada kelompok yang beranggota lebih banyak

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seorang pengendara hendaknya mengucapkan salam kepada pejalan kaki dan pejalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk dan jamaah yang beranggota lebih sedikit mengucapkan salam kepada jamaah yang beranggota lebih banyak. (Shahih Muslim No.4019)

2. Di antara hak muslim terhadap muslim lain adalah menjawab salam

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ada lima kewajiban bagi seorang muslim terhadap saudaranya yang muslim; menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang sakit dan mengiring jenazah. (Shahih Muslim No.4022)

3. Larangan memulai salam kepada Ahli Kitab dan cara menjawab salam mereka

         Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahuanhu:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah: Wa`alaikum. (Shahih Muslim No.4024)

         Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya orang Yahudi itu bila mengucapkan salam kepada kalian mereka mengucapkan: Assaamu `alaikum (kematian atas kalian), maka jawablah dengan: Wa`alaka (semoga menipa kamu). (Shahih Muslim No.4026)

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu:
Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk menemui Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. lalu mereka mengucapkan: Assaamu `alaikum (kematian atas kalian). Aisyah menyahut: Bal `alaikumus saam (sebaliknya semoga kalianlah yang mendapatkan kematian). Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menegur: Hai Aisyah, Sesungguhnya Allah menyukai keramahan dalam segala hal. Aisyah berkata: Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Aku telah menjawab: Wa `alakum (semoga menimpa kalian). (Shahih Muslim No.4027)

4. Mengucapkan salam kepada anak kecil

         Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahuanhu:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah melewati anak-anak lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka. (Shahih Muslim No.4031)

5. Wanita boleh keluar untuk memenuhi kebutuhan manusia

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Saudah keluar setelah diwajibkan hijab atasnya untuk memenuhi suatu keperluannya. Dia adalah seorang wanita yang bertubuh besar melebihi wanita-wanita yang lain sehingga mudah dibedakan bagi orang mengenalnya. Kemudian Umar bin Khathab melihatnya lalu berkata: Hai Saudah! Demi Allah, bagaimanapun kamu pasti kami kenali maka perhatikanlah cara kamu keluar rumah! Ia melanjutkan: Lalu berbaliklah Saudah untuk segera pulang sementara Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berada di rumahku sedang menyantap makan malam dengan tulang yang masih di tangannya. Ketika itulah Saudah masuk dan mengadu: Ya Rasulullah! Aku baru saja keluar. Lalu Umar bin Khathab menegurku begini dan begini. Ia melanjutkan (Aisyah): Kemudian diwahyukan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. (ayat ke 59 surat Al-Ahzab) pada saat tulang masih berada di tangan beliau yang belum beliau letakkan. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian, kaum wanita, untuk keluar memenuhi keperluan kalian. (Shahih Muslim No.4034)

6. Haram berduaan dengan lawan jenis dan menemuinya

         Hadis riwayat Uqbah bin Amir Radhiyallahuanhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Hindarkanlah diri kalian masuk menemui wanita. Seorang sahabat Ansar bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana kalau ipar? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Ipar itu maut (lebih mengkhawatirkan). (Shahih Muslim No.4037)

7. Menerangkan bahwa bagi orang yang terlihat berduaan dengan seorang perempuan sedangkan perempuan itu adalah istrinya atau muhrimnya disunatkan mengatakan ini Fulanah untuk menghindari prasangka buruk terhadapnya

         Hadis riwayat Shafiyah binti Huyaiy Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Suatu malam ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam. sedang beriktikaf, aku datang mengunjungi beliau untuk mengajak bicaRadhiyallahuanhu Setelah itu aku pun bangkit berdiri untuk pulang dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. ikut berdiri untuk mengantarkanku. Tempat tinggal Shafiyah adalah di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba lewat dua orang Ansar. Tatkala mereka melihat Nabi Shallallahu alaihi wassalam. mereka mempercepat jalan mereka lalu Nabi Shallallahu alaihi wassalam. berseru: Tunggulah! Dia adalah Shafiyah binti Huyaiy. Mereka berdua segera menyahut: Maha suci Allah, ya Rasulullah! Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya setan itu berada di dalam aliran darah tubuh manusia dan aku khawatir akan menimbulkan prasangka buruk di hati kalian atau mengatakan sesuatu. (Shahih Muslim No.4041)

8. Orang yang datang ke suatu majlis dan menemukan tempat kosong, dia boleh duduk di sana, bila tidak maka hendaklah dia duduk di belakang orang-orang yang sudah terlebih dahulu hadir

         Hadis riwayat Abu Waqid Al-Laitsi Radhiyallahuanhu:
Bahwa ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sedang duduk di mesjid bersama para sahabat, tiba-tiba muncullah tiga orang. Yang dua orang datang menghampiri Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sedangkan yang satu lagi berlalu pergi. Ia berkata: Kemudian keduanya berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. lalu yang satu melihat tempat kosong di antara lingkaran orang maka duduklah ia di sana. Adapun yang seorang lagi duduk di belakang mereka. Sementara itu orang yang ketiga, telah pergi. Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. selesai, beliau bersabda: Tidak inginkah kalian aku beritahukan tentang ketiga orang tadi? Seorang di antara mereka telah berlindung kepada Allah, maka Allah memberikan perlindungan kepadanya. Sedangkan yang lain malu, maka Allah pun malu kepadanya. Adapun orang yang ketiga ia telah berpaling, maka Allah pun berpaling darinya. (Shahih Muslim No.4042)

9. Haram mengusir orang dari tempat duduknya untuk diambil alih

         Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahuanhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bahwa Beliau bersabda: Jangan sekali-kali seorang di antara kalian membuat orang lain berdiri dari tempat duduknya kemudian dia duduk di tempat itu. (Shahih Muslim No.4043)

10. Larangan bagi lelaki banci (waria) masuk menemui wanita lain

         Hadis riwayat Ummu Salamah Radhiyallahuanhu:
Bahwa seorang lelaki banci berada di rumah (rumah Ummu Salamah) ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sedang di rumah. Orang itu berkata kepada saudara Ummu Salamah: Hai Abdullah bin Abu Umayah! Jika Allah menolong kalian menaklukan Thaif besok, maka akan kutunjukkan kepadamu anak perempuan Ghailan. Dia menghadap dengan empat lipatan perut dan mundur dengan delapan lipatan perut (sangat gemuk). Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mendengar ucapan itu, beliau bersabda: Janganlah mereka itu masuk ke tempat kalian. (Shahih Muslim No.4048)

11. Boleh memboncengkan wanita lain yang kepayahan di jalan

         Hadis riwayat Asma binti Abu Bakar Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Zubair mengawiniku sedangkan ia tidak memiliki harta atau hamba sahaya atau apapun kecuali kudanya. Akulah yang memberi makan kudanya, mencukupi bahan makanannya, mengurusnya, menumbukkan biji bagi hewan penyiramnya, memberinya makan, memberi minum, menjahitkan timbanya dan membuatkan adonan rotinya. Tetapi, aku tidak pandai membuat roti karena itu wanita Ansar tetanggakulah yang membuatkan roti untukku. Mereka adalah para wanita yang jujur. Ia berkata: Aku biasa memindahkan biji kurma dari tanah Zubair yang diberikan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dengan memanggulnya di atas kepalaku yang berjarak kira-kira duapertiga farsakh (1 farsakh = 3 mil). Ia berkata lagi: Suatu hari aku datang membawa biji kurma di atas kepalaku lalu bertemu dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. beserta beberapa orang sahabat. Beliau memanggilku, kemudian mengucap: Ikh, ikh (ucapan untuk menderumkan untanya). Beliau bermaksud memboncengku di belakangnya. Asma berkata: Aku merasa malu dan aku tahu kecemburuanmu. Zubair berkata: Demi Allah! Engkau memanggul biji kurma di atas kepala adalah lebih berat daripada engkau menunggang bersama beliau. Ia berkata: Sampai Abu Bakar Radhiyallahuanhu mengirimkan seorang pembantu yang mengambil alih pengurusan kuda, seakan-akan ia telah membebaskanku. (Shahih Muslim No.4050)

12. Haram dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan orang ketiga dengan tidak mendapatkan ridhanya

         Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahuanhu:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila terdapat tiga orang, maka janganlah dua orang (di antara mereka) berbisik-bisik tanpa menyertakan yang lain. (Shahih Muslim No.4052)

         Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila kalian bertiga orang, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan seorang yang lain sehingga kamu dapat bergaul dengan manusia, karena dapat membuatnya sedih. (Shahih Muslim No.4053)

13. Berobat, sakit dan menjampi

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Pandangan mata yang hasut itu adalah hak (benar). (Shahih Muslim No.4057)

14. Sihir

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Seorang Yahudi Bani Zuraiq yang bernama Labied bin Al-A`sham pernah menyihir Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. Ia berkata: Sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. membayangkan seolah-olah melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Sampai pada suatu hari atau suatu malam, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. berdoa dan terus berdoa, kemudian berkata: Hai Aisyah, apakah engkau merasa bahwa Allah memberiku petunjuk mengenai apa yang aku tanyakan kepada-Nya? Dua malaikat telah datang kepadaku. Salah satu di antaranya duduk di samping kepalaku, sedangkan yang lain di dekat kakiku. Malaikat yang berada di samping kepalaku berkata kepada malaikat yang berada di dekat kakiku atau sebaliknya: Sakit apa orang ini? Yang ditanya menjawab: Tersihir. Yang satu bertanya lagi: Siapakah yang menyihirnya? Yang lain menjawab: Labied bin Al-A`sham. Yang satunya bertanya: Di mana sihir itu ditempatkan? Yang lain menjawab: Pada sisir dan rontokan rambut yang berada di sisir itu serta kantong mayang kurma jantan. Yang satu bertanya: Di mana benda itu diletakkan? Yang lain menjawab: Di dalam sumur Dzu Arwan. Aisyah melanjutkan: Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. datang ke sumur itu bersama beberapa orang sahabat beliau kemudian beliau bersabda: Hai Aisyah, demi Allah, air sumur itu laksana perasan inai (yakni berwarna kuning kemerah-merahan), sedangkan pohon kurma yang ada di sana bagaikan kepala-kepala setan. Aku (Aisyah) bertanya: Ya Rasulullah, apakah engkau tidak membakar saja benda itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Tidak. Mengenai diriku, Allah telah berkenan menyembuhkanku. Dan aku tidak suka membuat masyarakat menjadi resah. Karena itu, aku menyuruh memendamnya. (Shahih Muslim No.4059)

15. Racun

         Hadis riwayat Anas Radhiyallahuanhu:
Bahwa seorang perempuan Yahudi datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dengan membawa hidangan daging kambing yang telah diracuni kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memakan sebagiannya. Lalu perempuan itu dihadapkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan ditanyakan tentang perbuatannya tersebut, dia menjawab: Aku memang bermaksud hendak membunuhmu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Allah tidak akan memberikan kekuasaan kepadamu untuk melakukan hal itu. Menurut satu riwayat, ada tambahan kalimat terhadapku. Para sahabat bertanya: Bolehkah kami membunuh perempuan ini? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Jangan! Anas berkata: Aku masih tetap mengenalinya (wanita itu) karena hendak mencelakakan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tersebut. (Shahih Muslim No.4060)

16. Anjuran menjampi orang sakit

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Biasanya apabila ada seorang di antara kami menderita sakit, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. mengusapnya dengan tangan kanan beliau, kemudian beliau berdoa: Hilangkanlah penyakitnya, wahai Tuhan manusia! Berilah kesembuhan karena Engkaulah Penyembuh (segala penyakit). Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menderita sakit dan semakin parah, aku pegang tangan beliau untuk melakukan seperti yang biasa beliau lakukan. Namun beliau menarik tangan beliau dari tanganku kemudian berdoa: Ya Allah! Ampunilah aku dan jadikanlah aku bersama Rafiq A`la (Tuhan). Aku bergegas untuk melihat, ternyata beliau telah wafat. (Shahih Muslim No.4061)

17. Menjampi orang sakit dengan bacaan jampi yang disyariatkan dan dengan meniupkannya

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Apabila ada salah seorang anggota keluarga beliau yang sakit, beliau meniupkan kepadanya dengan membacakan muawwizat. Ketika beliau menderita sakit yang menyebabkan beliau wafat, aku juga meniupkan kepada beliau dan mengusapkan dengan tangan beliau sendiri. Karena tangan beliau tentu lebih besar berkahnya daripada tanganku. (Shahih Muslim No.4065)

18. Diizinkan menjampi sakit mata, luka di lambung, terkena racun dan sakit akibat dihipnotis orang

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. memberikan keringanan kepada satu keluarga dari golongan Ansar untuk menjampi dari sesuatu yang beracun. (Shahih Muslim No.4067)

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. biasanya bila ada seseorang yang mengeluh sakit atau terkena luka, Nabi Shallallahu alaihi wassalam. berdoa sambil jari tangannya seperti ini, lalu Sufyan meletakkan jari telunjuknya ke tanah dan mengangkatnya kembali (mencontohkan perbuatan Nabi): Dengan nama Allah, debu tanah kami dan dengan ludah sebagian kami semoga orang yang sakit di antara kami dapat sembuh dengan seizin Tuhan kami. (Shahih Muslim No.4069)

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah menyuruhnya untuk meminta dijampikan dari pandangan mata yang hasut. (Shahih Muslim No.4070)

         Hadis riwayat Ummu Salamah Radhiyallahuanhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah berkata tentang budak perempuan yang berada di rumah Ummu Salamah Radhiyallahuanhu, istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam. yang di wajahnya beliau lihat terdapat bercak hitam sisa perubahan warna kulit lalu bersabda: Dia terkena penyakit karena pandangan mata hasut maka mintakanlah bacaan jampi baginya. Beliau bermaksud agar kulit wajahnya kuning kembali. (Shahih Muslim No.4074)

19. Boleh mengambil bayaran atas jampian dengan Alquran dan bacaan zikir

         Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahuanhu:
Bahwa beberapa orang di antara sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sedang berada dalam perjalanan melewati salah satu dari perkampungan Arab. Mereka berharap dapat menjadi tamu penduduk kampung tersebut. Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Tetapi ada yang menanyakan: Apakah di antara kalian ada yang dapat menjampi? Karena kepala kampung terkena sengatan atau terluka. Seorang dari para sahabat itu menjawab: Ya, ada. Orang itu lalu mendatangi kepala kampung dan menjampinya dengan surat Al-Fatihah. Ternyata kepala kampung itu sembuh dan diberikanlah kepadanya beberapa ekor kambing. Sahabat itu menolak untuk menerimanya dan berkata: Aku akan menanyakannya dahulu kepada kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. Dia pun pulang menemui Nabi Shallallahu alaihi wassalam. dan menuturkan peristiwa tersebut. Dia berkata: Ya Rasulullah! Demi Allah, aku hanya menjampi dengan surat Al-Fatihah. Mendengar penuturan itu: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tersenyum dan bersabda: Tahukah engkau bahwa Al-Fatihah itu merupakan jampi? Kemudian beliau melanjutkan: Ambillah imbalan dari mereka dan sisihkan bagianku bersama kalian. (Shahih Muslim No.4080)

20. Setiap penyakit ada obatnya dan anjuran untuk berobat

         Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Radhiyallahuanhu:
Dari Ashim bin Umar bin Qatadah bahwa Jabir bin Abdullah menjenguk Muqanna`, kemudian berkata: Aku tidak akan pulang sebelum engkau mau berbekam sebab saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya di dalam berbekam itu terdapat pengobatan. (Shahih Muslim No.4085)

         Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahuanhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Panas demam itu berasal dari didihan api neraka Jahanam. Karena itu dinginkanlah derajat panasnya dengan air!. (Shahih Muslim No.4093)

         Hadis riwayat Asma Radhiyallahuanhu:
Bahwa ia pernah didatangkan seorang perempuan gelisah yang menderita demam lalu ia meminta diambilkan air untuk disiramkan ke dalam kerah baju perempuan itu dan berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda: Turunkanlah panas demam itu dengan air. Beliau juga bersabda: Sesungguhnya panasnya itu berasal dari didihan api neraka Jahanam. (Shahih Muslim No.4098)

         Hadis riwayat Rafi` bin Khadij Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya panas demam itu adalah panas yang berasal dari api neraka Jahanam. Karena itu dinginkanlah panas itu dengan air. (Shahih Muslim No.4099)

21. Makruh berobat dengan ladud (obat yang diletakkan pada salah satu sisi mulut seseorang)

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Kami memberikan ladud kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. ketika beliau sakit. Lalu beliau memberi isyarat janganlah kamu mengobati dengan cara meladudiku. Kemudian di dalam hati kami berkata itu merupakan ketidaksukaan orang sakit terhadap obat. Tatkala sadar, beliau bersabda: Setiap orang dari kalian pasti pernah diobati dengan cara ladud kecuali Abbas Radhiyallahuanhu karena dia tidak sempat menyaksikan kalian. (Shahih Muslim No.4101)

22. Berobat dengan jintan hitam

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya pada jintan hitam itu terdapat obat untuk segala macam penyakit kecuali kematian. (Shahih Muslim No.4104)

23. Bubur talbinah itu dapat menguatkan hati orang yang sakit

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam.:
Bahwa apabila salah seorang anggota keluarganya meninggal dunia maka berkumpullah para wanita kemudian mereka berpisah lagi kecuali keluarga dan kerabat dekatnya lalu ia menyuruh diambilkan seperiuk sup terigu kemudian dimasak untuk dijadikan bubur talbinah tersebut lalu dituangkan ke atas periuk tadi, ia pun berkata: Makanlah bubur ini! Sesungguhnya, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bubur Talbinah itu dapat menyegarkan hati orang yang sakit dan dapat mengurangi sebagian rasa sedih. (Shahih Muslim No.4106)

24. Berobat dengan cara meminum madu

         Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. lalu berkata: Saudaraku merasa mual-mual perutnya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Minumkanlah madu! Setelah orang itu memberi minum madu kepada saudaranya, dia datang lagi kepada Nabi Shallallahu alaihi wassalam. dan melapor: Aku telah meminumkannya madu tetapi dia malah bertambah mulas. Kejadian itu berulang sampai tiga kali. Pada kali yang keempat Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. tetap bersabda: Minumkanlah madu! Orang itupun masih saja melapor: Aku benar-benar telah meminumkannya madu tetapi dia malah bertambah mulas, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Maha benar Allah (dalam firman-Nya, surat An-Nahl ayat 69) dan ada yang tidak beres dengan perut saudaramu itu. Akhirnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sendiri yang meminumkannya madu dan saudara orang itupun sembuh. (Shahih Muslim No.4107)

25. Wabah penyakit, pesimisme, perdukunan dan sebagainya

         Hadis riwayat Usamah bin Zaid Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sampar itu siksa yang dikirimkan kepada Bani Israel atau orang-orang yang hidup sebelum kalian. Apa bila kalian mendengar adanya sampar itu di suatu daerah, maka janganlah kalian datang ke sana. Dan kalau sampar itu berjangkit di suatu daerah, sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar untuk melarikan diri darinya. (Shahih Muslim No.4108)

         Hadis riwayat Abdullah bin Abbas Radhiyallahuanhu:
Bahwa Umar bin Khathab pergi ke Syam dan ketika telah tiba di sebuah dusun bernama Sarghi, beliau bertemu dengan penduduk Syam yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah Radhiyallahuanhu dan para pengikutnya. Mereka memberitahukan bahwa telah berjangkit di Syam suatu wabah penyakit. Ibnu Abbas Radhiyallahuanhu berkata: Maka Umar berkata: Coba panggilkan sahabat muhajirin yang pertama. Maka aku panggil mereka lantas beliau meminta saran mereka dan memberitahukan kepada mereka bahwa wabah telah berjangkit di Syam. Ternyata mereka berselisih pendapat menanggapi berita itu. Sebagian di antara mereka berkata: Engkau pergi untuk suatu urusan besar dan kami tidak setuju jika engkau kembali. Sedangkan sebagian yang lain berkata: Bersama engkau masih banyak rakyat dan para sahabat dan kami tidak setuju bila engkau mengajak mereka menuju ke wabah tersebut. Umar berkata: Tinggalkan aku dan tolong panggilkan sahabat Ansar! Aku pun memanggil mereka. Ketika dimintai pertimbangan, mereka juga bersikap dan berbeda pendapat seperti halnya orang-orang Muhajirin. Umar berkata: Tinggalkan aku! Lalu ia berkata lagi: Tolong panggilkan sesepuh Quraisy yang dahulu hijrah pada waktu penaklukan dan sekarang berada di sini. Aku memanggil mereka. Ternyata mereka saling bersepakat dan berkata: Menurut kami sebaiknya engkau kembali bersama orang-orang dan tidak mengajak mereka mendatangi wabah ini. Umar lalu berseru di tengah-tengah orang banyak: Aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi. Lalu mereka pun mengikutinya. Abu Ubaidah bin Jarrah Radhiyallahuanhu bertanya: Apakah untuk menghindari takdir Allah? Umar menjawab: Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, hai Abu Ubaidah! Umar memang tidak suka berselisih dengan Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari satu takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di suatu lembah yang memiliki dua lereng, yang satu subur dan yang satu lagi tandus, apakah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur itu bukan berarti engkau menggembalakanya karena takdir Allah? Begitu pun sebaliknya, kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakanya karena takdir Allah juga? Lalu datanglah Abdurrahman bin Auf yang absen karena suatu keperluannya lalu berkata: Sungguh aku mempunyai pengetahuan tentang masalah ini, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya, kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada di sana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri daripadanya. Ibnu Abbas berkata: Mendengar itu Umar bin Khathab memuji Allah kemudian pergi berlalu. (Shahih Muslim No.4114)

26. Tidak ada penularan tanpa kehendak Allah, tidak ada nasib sial, tidak ada reinkarnasi sebagai burung, tidak ada kematian karena cacing perut, tidak ada bintang tertentu yang dapat menurunkan hujan, tidak benar hantu itu dapat menjelma ke berbagai rupa dan menyesatkan manusia, dan juga tidak benar orang dapat memindahkan penyakit unta

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tidak ada (kepercayaan) penularan tanpa kehendak Allah, tidak benar kematian karena cacing perut dan tidak benar reinkarnasi menjadi burung. Lalu seorang arab badui bertanya: Ya Rasulullah! Lalu bagaimana dengan unta yang berada di padang penggembalaan yang semula bagaikan kijang kemudian didatangi oleh unta berkudis dan setelah bergabung, maka semua unta menjadi ketularan berkudis? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Lalu yang manakah yang menularkan pertama kali. (Shahih Muslim No.4116)

27. Tanda kenahasan dan optimisme dan perkara yang menimbulkan pesimisme

         Hadis riwayat Anas Radhiyallahuanhu:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tidak ada penularan (tanpa kehendak Allah) dan tidak ada tanda kenahasan dan yang membuatku terkagum adalah optimisme yaitu kalimat yang baik, kalimat yang bagus. (Shahih Muslim No.4123)

         Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahuanhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kenahasan itu ada pada rumah, pada perempuan dan pada kuda (kendaraan). (Shahih Muslim No.4127)

         Hadis riwayat Sahal bin Saad Radhiyallahuanhu dia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kalau memang kesialan itu ada, maka ia ada pada perempuan, pada kuda (kendaraan) dan pada tempat tinggal. (Shahih Muslim No.4131)

28. Pengharaman pedukunan dan mendatangi seorang dukun

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya beberapa dukun pernah menceritakan sesuatu kepada kami dan kami mendapati apa yang mereka ceritakan itu benar. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Itu adalah kalimat benar yang disambar oleh jin lalu dengan cepat dilemparkan ke telinga walinya tetapi di dalamnya sudah dia tambahi dengan seratus kedustaan. (Shahih Muslim No.4134)

29. Membunuh ular dan lainnya

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menyuruh untuk membunuh ular berbelang dua karena binatang tersebut dapat membutakan mata dan mencelakakan kandungan. (Shahih Muslim No.4139)

         Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahuanhu:
Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Bunuhlah ular-ular berbisa, ular-ular berbelang dua dan ular yang ekornya terputus karena keduanya dapat menggugurkan kandungan dan membutakan mata. (Shahih Muslim No.4140)

         Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Kami pernah bersama Nabi Shallallahu alaihi wassalam. di dalam sebuah gua dan ketika telah diturunkan kepada beliau surat Al-Mursalat di mana kami langsung hafalnya dari mulut beliau yang masih basah tiba-tiba muncullah seekor ular sehingga bersabdalah beliau: Bunuhlah ular itu! Kami segera berlomba untuk membunuhnya namun ular tersebut telah mendahului kami berlalu menghilang. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. kemudian bersabda: Rupanya Allah telah melindunginya dari kejahatan kamu sebagaimana Allah pun telah melindungi kamu dari kejahatannya. (Shahih Muslim No.4148)

30. Anjuran membunuh cecak

         Hadis riwayat Ummu Syarik Radhiyallahuanhu:
Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wassalam. menyuruhnya untuk membunuh cecak. Dan dalam hadis Ibnu Abu Syaibah: Dia menyuruh. (Shahih Muslim No.4152)

         Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahuanhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menamakan binatang cecak dengan sebutan fuwaisik. (Shahih Muslim No.4155)

31. Larangan membunuh semut

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu:
Dari Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bahwa seekor seekor semut pernah menggigit salah seorang nabi. Nabi tersebut lalu memerintahkan untuk mendatangi sarang semut dan membakarnya. Tetapi kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya: Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu lantas kamu membinasakan satu umat yang selalu bertasbih. (Shahih Muslim No.4157)

32. Haram membunuh kucing

         Hadis riwayat Abdullah bin Umar Radhiyallahuanhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seorang wanita disiksa karena mengurung seekor kucing sampai mati. Kemudian wanita itu masuk neraka karenanya, yaitu karena ketika mengurungnya ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum sebagaimana ia tidak juga melepasnya mencari makan dari serangga-serangga tanah. (Shahih Muslim No.4160)

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang tidak diberi makan dan minum serta tidak pula ia melepasnya mencari makanan dari serangga-serangga tanah. (Shahih Muslim No.4161)

33. Keutamaan memberi makan dan minum kepada binatang ternak yang mulia

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tatkala seorang lelaki sedang berjalan pada sebuah jalan terasalah olehnya dahaga yang sangat. Lalu ia mendapati sebuah sumur dan bersegeralah ia meneruninya untuk minum. Ketika keluar, tiba-tiba dia melihat seekor anjing menjulurkan lidah sambil menjilat-jilati debu karena sangat haus. Lelaki itu berkata: Anjing ini sedang kehausan seperti aku tadi lalu turunlah dia kembali ke dalam sumur untuk memenuhi sepatu kulitnya dengan air lalu digigit agar dapat naik kembali. Kemudian ia meminumkan air itu kepada anjing tersebut. Allah berterima kasih kepadanya lalu mengampuninya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah kami akan mendapatkan pahala karena binatang-binatang seperti ini? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. menjawab: Pada setiap yang bernyawa (mahluk hidup) ada pahalanya. (Shahih Muslim No.4162)

         Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu:
Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bahwa pada suatu hari yang sangat panas seorang wanita pelacur melihat seekor anjing sedang mengelilingi sebuah sumur sambil menjulurkan lidahnya karena kehausan. Ia kemudian melepas sepatu kulitnya (untuk mengambil air sumur yang akan diminumkan kepada anjing), lalu wanita itu diampuni dosanya. (Shahih Muslim No.4163)